Andai AKU Bisa Memilih

04.53.00 Unknown 0 Comments

Selamat malam.. kenalin namaku intan, aku sekarang seorang mahasiswi di universitas negeri di suatu kota. Aku berasal dari keluarga yang berantakan, ya lebih tepatnya brokenhome. Mama dan papaku bercerai ketika aku umur 12 tahun. Sungguh masa kecil yang kurang beruntung. Hehe..

Saat kecil, hidupku bagaikan surga. Ada dua malaikat yang selalu menjagaku. Mereka selalu menuruti apa yang aku mau. Sampai suatu malam, ku dengar suara gaduh diruang tamu rumah. Aku mencoba untuk mendekati sumber suara tersebut. Dan ternyata aku melihat kedua malaikatku sedang bertengkar.

Saat mereka melihatku mendengarkan mereka bertengkar. Mama langsung menghampiriku sedangkan ayah pergi entah kemana. "Intan sayang.." kata mama yang masih meneteskan airmata. "Iya ma?" Jawabku penasaran dengan apa yang terjadi. "Sayang.. maafkan mama dan papa. Kami harus berpisah intan. Tapi intan jangan bersedih, intan tetaplah anak kami, tanggung jawab kami. Terserah intan nantinya mau ikut mama ataupun papa. Kami tidak akan pernah melarang. Karena kebahagiaan intan adalah kebahagiaan kami." Jawab mamaku dengan meyakinkanku seolah semua akan berjalan mulus kedepannya.

Lalu, aku memutuskan untuk ikut dengan mama. Memang benar, menginjak umur 17 tahun mereka tidak pernah mengingkari janjinya. Mereka masih tetap memberikan pelukan hangat sebuah keluarga.

Namun saat menginjak aku masuk bangku perkuliahan. Janji mereka mulai perlahan mereka lupakan. Mama sibuk dengan pekerjaannya, luar kota bahkan sampai sebulan kadang lamanya. Sedangkan papa, sibuk dengan keluarga barunya. Sampai suatu waktu aku merasa tidak ada lagi pelukan dalam keluarga. Hanya peluk dari Tuhan yang selalu menemaniku. Sampai suatu ketika, aku protes terhadap mama. Aku berkata bahwa aku butuh mama untuk menemaniku saja dirumah bercanda tawa berbagi cerita. Namun kata mama, "mama itu cari duit buat keperluan kamu. Buat kebaikan kamu, buat yang terbaik buat kamu. Kenapa kamu tidak bersyukur?" Dengan nada membentak.

Demi kebaikan? Di bagian mananya? Mama rela bertemu dengan client menghadiri rapat-rapat namun tidak pernah mau menghadiri acara seminar yang ku buat di kampus. Hal tersebut ku adukan pada papa. Namun jawaban papa, "kamu harus lebih mengerti dengan keadaan kami. Kamu harus lebih bisa bersyukur.."

Sampai pada akhirnya, aku mulai lelah.. aku mencoba mencari perhatian dari dunia luar. Aku mulai mencoba minuman keras, bahkan aku pernah mengkonsumsi narkoba. Semua barang itu membuatku seperti dalam pelukan keluarga tanpa mengemis dari mereka. Dan akhirnya aku terjerumus..

Lalu suatu ketika, mamaku mengetahui hal burukku. Mama menelfon papa untuk membicarakan hal ini.. papa pun mau menyempatkan diri untuk datang. Aku habis di semprot oleh mereka berdua. Mereka berkata bahwa mereka sangat kecewa dengan apa yang aku lakukan. Mereka mulai berbicara yang mana selama ini mereka berikan untukku. "Kamu tu sudah kami biayai kuliah di universitas mahal, kami fasilitasi mobil, uang jajan yang banyak. Dasar anak cuma menambah beban." Hatiku hancur mendengar perkataan mereka, jadi aku adalah seorang anak yang menjadi beban untuk mereka.

Beban? Jika aku adalah sebuah beban dari mereka kenapa mereka mau melahirkan ku. Aku tidak pernah meminta untuk dilahirkan.. jika aku bisa memilih.. aku ingin dilahirkan dari orang sederhana namun bersama, hangat memeluk dalam keluarga. Jikalaupun untuk menikmati pahit dunia ini. Aku lebih memilih dan memohon untuk tidak dilahirkan. Pada nyatanya aku tidak bisa. Pada akhirnya janji mereka hanya pemanis untuk perpisahan mereka.

0 komentar:

KE-SEKIAN

11.17.00 Unknown 0 Comments

Pada sunyinya malam. hati selalu ingin mengenang, yang sebenarnya harus segera dilupakan. tau bagaimana rasanya mencintai seseorang yang menomorkan kamu untuk yang ke sekian? dengan berat, hati selalu mencoba mengikhlaskan. bahkan pada hal yang tidak bisa dilupakan.

ada seseorang yang bertanya. "Bagaimana rasanya mencintai namun dibalas dengan seenaknya? engkau berjuang mati-matian tidak tergoda oleh seorang seperti apapun demi yang kamu sebut itu cinta, namun kenyataannya kamu bukanlah satu-satunya dihatinya. bagaimana rasanya? bagaimana rasanya dinomor sekiankan?"

lebih dari sakit..

namun ada perihal dalam cinta yang takkan pernah dimengerti seseorang. bagaimana dia mampu bertahan pada rasa yang lebih dari sakit tersebut. bagaimana dia mampu meninggikan kebahagiaan orang lain diatas kebahagiaannya sendiri. percayalah, kau tidak akan pernah tau alasannya.

lalu seseorang tersebut bertanya lagi. "setelah seperti ini, maukah kamu bertahan untuk kesekian lagi?" tidak. selamanya akan seperti itu, dia tidak akan mencintaiku sepenuhnya. kamu mau tau rasanya memprioritaskan seseorang namun kamu hanya di sekian kan? sakit. pada akhirnya aku hanya perlu menengok kebelakang, bahwa selama ini ada yang rela bertahan disaat aku mempertahankan orang lain.

karena hidup dengan orang yang mencintaimu jauh lebih baik daripada harus hidup dengan cara disekiankan. percayalah, bahagiaku tak akan lama jika harus di sekiankan bahkan oleh orang yang aku cintai melebihi diri sendiri.

0 komentar:

Lagi-Lagi Perkara Hati

09.40.00 Unknown 1 Comments

Masihlah sama seperti dahulu. kamu selalu memenangkan perihal rasa dariku. tidak ada yang berubah, tidak ada yang mau berubah. hati memaksa menolak untuk mencari, memaksa harus mengenang lagi. lagi, lagi, dan lagi.. kenangan itu selalu memaksa untuk harus selalu dipikirkan. "Aku tak mampu lagi.." jerit hati yang sudah tidak sanggup dipaksa mengenang. namun tanpa disadari hati selalu tabah merawat kenangan itu.. menyirami, memupuk, merawat setulus hati kenangan tersebut.

benar kata khalayak orang-orang diluar sana. jika kau berurusan perihal cinta, yang kau dapatkan hanya dua. bahagia dan luka. bahagia, bisa jadi karena mendapatkan sepenuh hatinya bisa juga ikhlas melepaskan dia dengan pilihannya. luka, bisa jadi karena tidak mampu mengikhlaskan dia bersama pilihannya bisa juga karena tidak mampu menjadi pilihannya. setiap insan berbeda alasannya..

mencintaimu.. mungkin sudah mengakar menjadi hobi. melihat kamu bersamanya, esok pun sama.. melihat lagi kamu bahagia karenanya.. esoknya pun sama lagi.. kata orang aku bodoh, masih saja berharap pada hal nyata yang harus ditinggalkan.. percayalah selalu ada niatanku untuk menyudahi, namun lagi-lagi perkara hati melarang pergi.

Jika di izinkan, Tuhan.. Tolong hilangkan rasa ini. lelah hati jika harus dan harus lagi berkata "DAH NDAK PAPA KOK, ASALKAN KAMU BAHAGIA AKU JUGA BAHAGIA".. lagi-lagi Hati terus membelamu.. "Biarkan aku rapuh asalkan kamu kuat teguh, biarkan aku luka asal bahagia."

percayalah tidak pernah ada enaknya memiliki rasa seperti ini. yang selalu disekiankan, yang selalu harus rela melihat kamu bahagia dipelukannya, yang mau tabah begitu saja disakiti, dan yang selalu kamu paksa supaya biasa saja.. biasa saja...

1 komentar:

LDR? SIAPA TAKUT GAN!

20.15.00 Unknown 0 Comments

0 komentar:

UNTUKMU, TERIMA KASIH

01.48.00 Unknown 0 Comments



Kembali ku teringat akanmu. Sore itu, hari jumat itu. Engkau dan aku memutuskan untuk bertemu. Engkau ingin cerita banyak hal yang kamu alami. Aku menentukan jam 2 siang sebagai waktu untuk kita.

“Kamu mau minum dimana?” tanyaku padamu seraya memilih tempat untukmu yang ingin menceritakan semua pedihmu. “terserah” jawabmu singkat.

Dia adalah wanita yang sudah aku kagumi semenjak aku dibangku SMP. Waktu itu entah bagaimana bisa aku jatuh cinta sedang kami tak pernah berbicara empat mata. Lama-lama kagum itu berubah menjadi cinta.

Setiap aku melangkahkan pada hati yang lain, entah sosok seperti apa dia hingga mampu menggagalkan anganku untuk melupakannya. Hingga pada akhirnya kita dipertemukan ( kembali ) di Universitas yang sama.

Mungkin terlalu lama jika mencari tempat yang sempurna, seketika aku memilih warung sederhana di depan kampus kami. Memang bukan tempat tongkrongan yang mewah untuk wanita sepertimu yang indah.

Kupesankan sebuah minuman seperti yang kamu minta untuk menyegarkan mulut yang mungkin akan kau gunakan untuk berbicara panjang lebar. Yang aku tau kamu ingin menceritakan masalah cintamu padaku, entah aku harus bagaimana.. Aku cemburu.

Menit-menit pertama, kita hanya saling membicarakan masalah studi kita.. lidahku kelu, merasa rindu setelah lama kita tidak bertemu. Jika saja bisa ingin kupeluk dan ku kecup mesra keningmu saat bertemu, namun aku tau kita belum menjadi apa-apa. Kita bahkan takk begitu banyak bertegur sapa.

Beberapa menit kemudian. Kamu mengungkapkan semua yang ada di dada. Masalah cintamu, bagaimana engkau diabaikan oleh kekasihmu, bagaimana engkau ditinggalkan oleh kekasihmu. Kamu wanita yang begitu tegar. Tapi kamu belum pernah tau apa yang aku lalui padamu, jauh lebih dari apa yang kamu alami dicintamu.

Menunggu, tak semua orang mau menunggu, kebanyakan mereka akhirnya menyerah pada waktu. Pada akhirnya mereka yang ditunggu menyesal karena memperlambat waktu yang karena mereka yang trauma terhadap hal yang abu-abu, pada luka yang sudah semu. Lalu mereka seenaknya saja berbicara. “perjuanganmu tidak tulus, gitu aja kok nyerah.” Mungkin ini salahku yang tidak pernah jujur padamu, mencintaimu sejak dulu.

“Menangislah jika itu melegakanmu walaupun rasanya itu tak lagi menjadi arti untukmu.” Batinku sembari melihat tatapanmu yang berubah menjadi pilu. Kamu yang baru saja patah hati yang merasa sangat tersakiti oleh lelaki yang kamu cintai. Aku tau rasanya kehilangan, seorang adik perempuan yang dari kecil menjadi sumber dai tawaku, acap kali menjadi teman bermainku. Dia lebih dulu ke surga, meninggalkan kami sekeluarga. Bagaimana engkau sedih tersendu seperti itu karena ditinggalkan kekasih yang belum tentu mencintaimu sepenuh hati itu? Mengapa engkau lebih memilih merelakan air matamu jatuh karena lelaki yang tidak memperdulikanmu itu?

Aku menemukanmu yang tengah patah hati, dan mungkin juga aku masih patah hati. Ya, karena kamu menjalin hubungan dengan kekasih yang kini kau tangisi itu. Dia lebih memiliki keberanian untuk mengungkapkan padamu daripada aku. Aku tahu dia menang segalanya dibandingkan aku, pantas sajalah kamu berhasil terpikat olehnya.

Setelah perbincangan tersebut. Kita makin dekat, dengan status masih teman. Kini kulihat, lukamu mulai sembuh, hancurnya hatimu perlahan kembali utuh. Kita saling bertukar rindu, aku rindu padamu.. sedangkan kamu bertukar rindu pada dia yang kamu mau, dan pasti bukan aku.

Setelah waktu berjalan, semua terlihat hambar. Aku berfikir kamu tidak pernah mencintaiku. Aku hanya kamu butuhkan saat kamu rapuh. Ya, aku sadar. Kesamaan memang tidak selalu bisa menyatukan. Kamu bukan membutuhkan teman senasib. Tapi kamu hanya butuh penyembuh agar kamu kembali utuh. Kamu hanya butuh pelarian agar kamu kembali bisa mengejar impian. Untukmu, terima kasih.

0 komentar:

KU NIKMATI

20.54.00 Unknown 0 Comments



Pada hari yang lalu. Saat matahari mulai meredup malu, aku menemui dia yang dulu menjadi wanita terindahku. Dia memintaku datang untuk menemuinya. Di taman kota dia berkata butuh teman bicara.

Tadinya aku sangat ingin menolak ajakan tersebut. Tetapi dari intonasi yang ia bicarakan di telepon, aku tidak mampu untuk menolak. Aku sadar bagaimana sakitnya mendapatkan penolakan saat kamu butuh teman (seseorang).

Aku sampai pada tempat sesuai janjiku. Pukul lima sore menjelang petang. Aku diberi suguhan roti dan soft drink. Kami saling memandang gedung-gedung indah nan ramai akan hadirnya kendaraan yang berjalan rapi beriringan.

Sepuluh menit pertama dia masih membicarakan tentang pribadinya, mulai dari sekolah yang dia masuki, teman baru yang membuatnya happy. Ia juga tak sungkan bertanya padaku dengan siapa aku menjalin hubungan? Lalu keadaan hening seakan ia masih tidak rela aku menyerah, lalu ia kutinggalkan.

Beberapa menit kemudian, perbincangan ini menjadi lebih serius. Katanya dia baru saja putus dengan kekasihnya. Sejenak mengenang kami, dulu kami berpisah dengan baik. Meski sebenarnya tidak benar-benar baik. Aku masih menyayangi dan mencintainya, sedangkan dia beda. Itulah masalah yang menyebabkan kisah kami pupus.

Kemudian dia menangis. Dia mencintai pria itu, aku tau dari sikap sedih yang berusaha dia tunjukkan padaku. Dia bertanya: beritahu aku bagaimana caramu melupakanku (dulu)?

Aku diam, tak tahu kalimat apa yang harus aku jelaskan. Kalimat apa yang harus ku katakan, bahwa aku belum benar-benar melupakanmu. Aku masih seperti dulu yang mencintaimu.

“Setiap perpisahan selalu memberikan pengalaman. Bagaimana cara menghargai setiap orang benar-benar kamu butuhkan bukan yang hanya kamu inginkan. Suatu hari akan kamu temukan orang yang akan membuatmu bahagia” sembari kata itu terlontar aku tersenyum berusaha sok kuat.

“Semua perkara menghargai. Ini soal bagaimana kamu sadar untuk tidak lagi menyia-nyiakan apa yang sudah ada. Aku tau kamu suka sekali akan sepatu. Setiap kamu bosan, kamu menyia-nyiakan sepatumu yang lama, lalu mencari yang baru hanya karena bosan. Padahal kamu sebenarnya tidak membutuhkan itu. Belajarlah mengerti setiap tindakan yang kamu lakukan akan mendapatkan balasan. Entah itu tindakan baik maupun buruk. Aku tidak pernah membencimu karena keputusan yang kamu tusukkan padaku. Untuk inilah kamu akan sadar untuk tidak lagi melakukan kesalahan yang sama. Perihal belajar dari kesalahan, pada akhirnya kamu akan bahagia entah dengan siapa. Semoga tidak lagi hatimu memutuskan karena bosan, ya.”

 Kini soft drink terasa hambar setelah percakapan ini, namun tetap ku nikmati.

0 komentar:

Untuk Wanita Yang Aku Perjuangkan

03.21.00 Unknown 0 Comments

Aku mencintaimu, kasihku. Meski  terkadang aku memanjakanmu dengan sikapku yang arogan atau terkesan kasar. Namun ketahuilah, aku khawatir terhadapmu. Aku masih seperti dulu, seorang laki-laki yang berusaha mencintaimu. Seseorang yang bernafas dalam harapan. Yang terkadang terluka sendiri oleh harapan yang ku besar-besarkan. Aku ingin kamu waras untuk memikirkanku dan meyakini bahwa aku mencintaimu dan tak ada lain selain kamu. Meski aku tau bahwa memang nyata, kamu bosan dengan sikapku yang ku tunjukkan padamu. Karena ada hal yang tidak bisa ditebak, terkadang perasaan sering diuji oleh hal yang tak pernah terfikirkan.

Namun sejak aku memilihmu, aku belajar untuk percaya. Meski diluar sana banyak sekali yang membuatku ragu akan dirimu. Dan akupun juga tau, kamupun demikian. Tak apa jika kini ragumu akan ku kian tak terbentahkan. Yang pasti, aku hanya mampu berjuang sekuat-kuatnya aku. Aku sudah memilihmu, dengan senang hati semua ini akan ku lalui.

Kini aku salah, aku salah mengucapkan padamu hakekat kata menyerah. Kini kamu lebih yakin akan ragumu. Kini kamu tidak yakin lagi akan ketulusanku. Ya aku tau..

Ketahuilah, setelah aku menemukanmu. Tak ingin ada hasrat lagi untuk mencintai selain dirimu. Beberapa kali harus kupikirkan hal itu, kamu belum paham dan belum terbiasa akan duniaku. Ketahuilah, kata perpisahan tak pernah ingin keluar dari hatiku, meski terkadang mulut selalu membeberkan hal yang abu-abu. Aku masih ingin mendekatkanmu kepadaku. Aku ingin jatuh cinta padamu pada setiap waktu yang kupunya. menjalani hidup saling berjuang bersama. Tidak akan ada nikmat dunia yang mampu menggantikan itu.

Aku masihlah lelaki yang selalu merindukanmu. Aku masihlah lelaki yang selalu menunggumu. Aku masihlah lelaki yang selalu ingin mengetahui kabarmu. Aku masihlah lelaki yang selalu mencintaimu. Aku masihlah lelaki yang mendambakanmu. Aku masihlah lelaki yang sebenarnya tak ingin pergi, darimu.

0 komentar: