KE-SEKIAN
11.17.00
Unknown
0 Comments
Pada sunyinya malam. hati selalu ingin mengenang, yang sebenarnya harus segera dilupakan. tau bagaimana rasanya mencintai seseorang yang menomorkan kamu untuk yang ke sekian? dengan berat, hati selalu mencoba mengikhlaskan. bahkan pada hal yang tidak bisa dilupakan.11.17.00 Unknown 0 Comments
Lagi-Lagi Perkara Hati
09.40.00
Unknown
1 Comments
Masihlah sama seperti dahulu. kamu selalu memenangkan perihal rasa dariku. tidak ada yang berubah, tidak ada yang mau berubah. hati memaksa menolak untuk mencari, memaksa harus mengenang lagi. lagi, lagi, dan lagi.. kenangan itu selalu memaksa untuk harus selalu dipikirkan. "Aku tak mampu lagi.." jerit hati yang sudah tidak sanggup dipaksa mengenang. namun tanpa disadari hati selalu tabah merawat kenangan itu.. menyirami, memupuk, merawat setulus hati kenangan tersebut.09.40.00 Unknown 1 Comments
LDR? SIAPA TAKUT GAN!
20.15.00
Unknown
0 Comments
20.15.00 Unknown 0 Comments
UNTUKMU, TERIMA KASIH
01.48.00
Unknown
0 Comments
01.48.00 Unknown 0 Comments
Kembali
ku teringat akanmu. Sore itu, hari jumat itu. Engkau dan aku memutuskan untuk
bertemu. Engkau ingin cerita banyak hal yang kamu alami. Aku menentukan jam 2
siang sebagai waktu untuk kita.
“Kamu
mau minum dimana?” tanyaku padamu seraya memilih tempat untukmu yang ingin
menceritakan semua pedihmu. “terserah” jawabmu singkat.
Dia
adalah wanita yang sudah aku kagumi semenjak aku dibangku SMP. Waktu itu entah
bagaimana bisa aku jatuh cinta sedang kami tak pernah berbicara empat mata.
Lama-lama kagum itu berubah menjadi cinta.
Setiap
aku melangkahkan pada hati yang lain, entah sosok seperti apa dia hingga mampu
menggagalkan anganku untuk melupakannya. Hingga pada akhirnya kita dipertemukan
( kembali ) di Universitas yang sama.
Mungkin
terlalu lama jika mencari tempat yang sempurna, seketika aku memilih warung
sederhana di depan kampus kami. Memang bukan tempat tongkrongan yang mewah
untuk wanita sepertimu yang indah.
Kupesankan
sebuah minuman seperti yang kamu minta untuk menyegarkan mulut yang mungkin
akan kau gunakan untuk berbicara panjang lebar. Yang aku tau kamu ingin
menceritakan masalah cintamu padaku, entah aku harus bagaimana.. Aku cemburu.
Menit-menit
pertama, kita hanya saling membicarakan masalah studi kita.. lidahku kelu,
merasa rindu setelah lama kita tidak bertemu. Jika saja bisa ingin kupeluk dan
ku kecup mesra keningmu saat bertemu, namun aku tau kita belum menjadi apa-apa.
Kita bahkan takk begitu banyak bertegur sapa.
Beberapa
menit kemudian. Kamu mengungkapkan semua yang ada di dada. Masalah cintamu,
bagaimana engkau diabaikan oleh kekasihmu, bagaimana engkau ditinggalkan oleh
kekasihmu. Kamu wanita yang begitu tegar. Tapi kamu belum pernah tau apa yang
aku lalui padamu, jauh lebih dari apa yang kamu alami dicintamu.
Menunggu,
tak semua orang mau menunggu, kebanyakan mereka akhirnya menyerah pada waktu. Pada
akhirnya mereka yang ditunggu menyesal karena memperlambat waktu yang karena
mereka yang trauma terhadap hal yang abu-abu, pada luka yang sudah semu. Lalu mereka
seenaknya saja berbicara. “perjuanganmu tidak tulus, gitu aja kok nyerah.” Mungkin
ini salahku yang tidak pernah jujur padamu, mencintaimu sejak dulu.
“Menangislah
jika itu melegakanmu walaupun rasanya itu tak lagi menjadi arti untukmu.”
Batinku sembari melihat tatapanmu yang berubah menjadi pilu. Kamu yang baru
saja patah hati yang merasa sangat tersakiti oleh lelaki yang kamu cintai. Aku
tau rasanya kehilangan, seorang adik perempuan yang dari kecil menjadi sumber
dai tawaku, acap kali menjadi teman bermainku. Dia lebih dulu ke surga,
meninggalkan kami sekeluarga. Bagaimana engkau sedih tersendu seperti itu
karena ditinggalkan kekasih yang belum tentu mencintaimu sepenuh hati itu?
Mengapa engkau lebih memilih merelakan air matamu jatuh karena lelaki yang
tidak memperdulikanmu itu?
Aku
menemukanmu yang tengah patah hati, dan mungkin juga aku masih patah hati. Ya,
karena kamu menjalin hubungan dengan kekasih yang kini kau tangisi itu. Dia
lebih memiliki keberanian untuk mengungkapkan padamu daripada aku. Aku tahu dia
menang segalanya dibandingkan aku, pantas sajalah kamu berhasil terpikat
olehnya.
Setelah
perbincangan tersebut. Kita makin dekat, dengan status masih teman. Kini
kulihat, lukamu mulai sembuh, hancurnya hatimu perlahan kembali utuh. Kita
saling bertukar rindu, aku rindu padamu.. sedangkan kamu bertukar rindu pada
dia yang kamu mau, dan pasti bukan aku.
Setelah
waktu berjalan, semua terlihat hambar. Aku berfikir kamu tidak pernah
mencintaiku. Aku hanya kamu butuhkan saat kamu rapuh. Ya, aku sadar. Kesamaan
memang tidak selalu bisa menyatukan. Kamu bukan membutuhkan teman senasib. Tapi kamu hanya butuh penyembuh agar kamu kembali utuh. Kamu hanya butuh pelarian
agar kamu kembali bisa mengejar impian. Untukmu, terima kasih.
KU NIKMATI
20.54.00
Unknown
0 Comments
20.54.00 Unknown 0 Comments
Pada hari yang lalu. Saat matahari mulai meredup
malu, aku menemui dia yang dulu menjadi wanita terindahku. Dia memintaku datang
untuk menemuinya. Di taman kota dia berkata butuh teman bicara.
Tadinya aku sangat ingin menolak ajakan tersebut. Tetapi
dari intonasi yang ia bicarakan di telepon, aku tidak mampu untuk menolak. Aku
sadar bagaimana sakitnya mendapatkan penolakan saat kamu butuh teman
(seseorang).
Aku sampai pada tempat sesuai janjiku. Pukul lima
sore menjelang petang. Aku diberi suguhan roti dan soft drink. Kami saling
memandang gedung-gedung indah nan ramai akan hadirnya kendaraan yang berjalan
rapi beriringan.
Sepuluh menit pertama dia masih membicarakan tentang
pribadinya, mulai dari sekolah yang dia masuki, teman baru yang membuatnya
happy. Ia juga tak sungkan bertanya padaku dengan siapa aku menjalin hubungan?
Lalu keadaan hening seakan ia masih tidak rela aku menyerah, lalu ia
kutinggalkan.
Beberapa menit kemudian, perbincangan ini menjadi
lebih serius. Katanya dia baru saja putus dengan kekasihnya. Sejenak mengenang
kami, dulu kami berpisah dengan baik. Meski sebenarnya tidak benar-benar baik.
Aku masih menyayangi dan mencintainya, sedangkan dia beda. Itulah masalah yang
menyebabkan kisah kami pupus.
Kemudian dia menangis. Dia mencintai pria itu, aku
tau dari sikap sedih yang berusaha dia tunjukkan padaku. Dia bertanya: beritahu
aku bagaimana caramu melupakanku (dulu)?
Aku diam, tak tahu kalimat apa yang harus aku
jelaskan. Kalimat apa yang harus ku katakan, bahwa aku belum benar-benar
melupakanmu. Aku masih seperti dulu yang mencintaimu.
“Setiap perpisahan selalu memberikan pengalaman.
Bagaimana cara menghargai setiap orang benar-benar kamu butuhkan bukan yang
hanya kamu inginkan. Suatu hari akan kamu temukan orang yang akan membuatmu
bahagia” sembari kata itu terlontar aku tersenyum berusaha sok kuat.
“Semua perkara menghargai. Ini soal bagaimana kamu
sadar untuk tidak lagi menyia-nyiakan apa yang sudah ada. Aku tau kamu suka
sekali akan sepatu. Setiap kamu bosan, kamu menyia-nyiakan sepatumu yang lama,
lalu mencari yang baru hanya karena bosan. Padahal kamu sebenarnya tidak
membutuhkan itu. Belajarlah mengerti setiap tindakan yang kamu lakukan akan
mendapatkan balasan. Entah itu tindakan baik maupun buruk. Aku tidak pernah membencimu
karena keputusan yang kamu tusukkan padaku. Untuk inilah kamu akan sadar untuk
tidak lagi melakukan kesalahan yang sama. Perihal belajar dari kesalahan, pada akhirnya kamu akan bahagia entah dengan siapa. Semoga tidak lagi hatimu memutuskan karena bosan, ya.”
Kini soft drink terasa hambar
setelah percakapan ini, namun tetap ku nikmati.
Untuk Wanita Yang Aku Perjuangkan
03.21.00
Unknown
0 Comments
03.21.00 Unknown 0 Comments
Aku mencintaimu, kasihku. Meski terkadang aku memanjakanmu dengan sikapku yang arogan atau terkesan kasar. Namun ketahuilah, aku khawatir terhadapmu. Aku masih seperti dulu, seorang laki-laki yang berusaha mencintaimu. Seseorang yang bernafas dalam harapan. Yang terkadang terluka sendiri oleh harapan yang ku besar-besarkan. Aku ingin kamu waras untuk memikirkanku dan meyakini bahwa aku mencintaimu dan tak ada lain selain kamu. Meski aku tau bahwa memang nyata, kamu bosan dengan sikapku yang ku tunjukkan padamu. Karena ada hal yang tidak bisa ditebak, terkadang perasaan sering diuji oleh hal yang tak pernah terfikirkan.
Namun sejak aku memilihmu, aku belajar untuk percaya. Meski diluar sana banyak sekali yang membuatku ragu akan dirimu. Dan akupun juga tau, kamupun demikian. Tak apa jika kini ragumu akan ku kian tak terbentahkan. Yang pasti, aku hanya mampu berjuang sekuat-kuatnya aku. Aku sudah memilihmu, dengan senang hati semua ini akan ku lalui.
Kini aku salah, aku salah mengucapkan padamu hakekat kata menyerah. Kini kamu lebih yakin akan ragumu. Kini kamu tidak yakin lagi akan ketulusanku. Ya aku tau..
Ketahuilah, setelah aku menemukanmu. Tak ingin ada hasrat lagi untuk mencintai selain dirimu. Beberapa kali harus kupikirkan hal itu, kamu belum paham dan belum terbiasa akan duniaku. Ketahuilah, kata perpisahan tak pernah ingin keluar dari hatiku, meski terkadang mulut selalu membeberkan hal yang abu-abu. Aku masih ingin mendekatkanmu kepadaku. Aku ingin jatuh cinta padamu pada setiap waktu yang kupunya. menjalani hidup saling berjuang bersama. Tidak akan ada nikmat dunia yang mampu menggantikan itu.
Aku masihlah lelaki yang selalu merindukanmu. Aku masihlah lelaki yang selalu menunggumu. Aku masihlah lelaki yang selalu ingin mengetahui kabarmu. Aku masihlah lelaki yang selalu mencintaimu. Aku masihlah lelaki yang mendambakanmu. Aku masihlah lelaki yang sebenarnya tak ingin pergi, darimu.
Namun sejak aku memilihmu, aku belajar untuk percaya. Meski diluar sana banyak sekali yang membuatku ragu akan dirimu. Dan akupun juga tau, kamupun demikian. Tak apa jika kini ragumu akan ku kian tak terbentahkan. Yang pasti, aku hanya mampu berjuang sekuat-kuatnya aku. Aku sudah memilihmu, dengan senang hati semua ini akan ku lalui.
Kini aku salah, aku salah mengucapkan padamu hakekat kata menyerah. Kini kamu lebih yakin akan ragumu. Kini kamu tidak yakin lagi akan ketulusanku. Ya aku tau..
Ketahuilah, setelah aku menemukanmu. Tak ingin ada hasrat lagi untuk mencintai selain dirimu. Beberapa kali harus kupikirkan hal itu, kamu belum paham dan belum terbiasa akan duniaku. Ketahuilah, kata perpisahan tak pernah ingin keluar dari hatiku, meski terkadang mulut selalu membeberkan hal yang abu-abu. Aku masih ingin mendekatkanmu kepadaku. Aku ingin jatuh cinta padamu pada setiap waktu yang kupunya. menjalani hidup saling berjuang bersama. Tidak akan ada nikmat dunia yang mampu menggantikan itu.
Aku masihlah lelaki yang selalu merindukanmu. Aku masihlah lelaki yang selalu menunggumu. Aku masihlah lelaki yang selalu ingin mengetahui kabarmu. Aku masihlah lelaki yang selalu mencintaimu. Aku masihlah lelaki yang mendambakanmu. Aku masihlah lelaki yang sebenarnya tak ingin pergi, darimu.
Langganan:
Postingan (Atom)









0 komentar: