Andai AKU Bisa Memilih
Selamat malam.. kenalin namaku intan, aku sekarang seorang mahasiswi di universitas negeri di suatu kota. Aku berasal dari keluarga yang berantakan, ya lebih tepatnya brokenhome. Mama dan papaku bercerai ketika aku umur 12 tahun. Sungguh masa kecil yang kurang beruntung. Hehe..
Saat kecil, hidupku bagaikan surga. Ada dua malaikat yang selalu menjagaku. Mereka selalu menuruti apa yang aku mau. Sampai suatu malam, ku dengar suara gaduh diruang tamu rumah. Aku mencoba untuk mendekati sumber suara tersebut. Dan ternyata aku melihat kedua malaikatku sedang bertengkar.
Saat mereka melihatku mendengarkan mereka bertengkar. Mama langsung menghampiriku sedangkan ayah pergi entah kemana. "Intan sayang.." kata mama yang masih meneteskan airmata. "Iya ma?" Jawabku penasaran dengan apa yang terjadi. "Sayang.. maafkan mama dan papa. Kami harus berpisah intan. Tapi intan jangan bersedih, intan tetaplah anak kami, tanggung jawab kami. Terserah intan nantinya mau ikut mama ataupun papa. Kami tidak akan pernah melarang. Karena kebahagiaan intan adalah kebahagiaan kami." Jawab mamaku dengan meyakinkanku seolah semua akan berjalan mulus kedepannya.
Lalu, aku memutuskan untuk ikut dengan mama. Memang benar, menginjak umur 17 tahun mereka tidak pernah mengingkari janjinya. Mereka masih tetap memberikan pelukan hangat sebuah keluarga.
Namun saat menginjak aku masuk bangku perkuliahan. Janji mereka mulai perlahan mereka lupakan. Mama sibuk dengan pekerjaannya, luar kota bahkan sampai sebulan kadang lamanya. Sedangkan papa, sibuk dengan keluarga barunya. Sampai suatu waktu aku merasa tidak ada lagi pelukan dalam keluarga. Hanya peluk dari Tuhan yang selalu menemaniku. Sampai suatu ketika, aku protes terhadap mama. Aku berkata bahwa aku butuh mama untuk menemaniku saja dirumah bercanda tawa berbagi cerita. Namun kata mama, "mama itu cari duit buat keperluan kamu. Buat kebaikan kamu, buat yang terbaik buat kamu. Kenapa kamu tidak bersyukur?" Dengan nada membentak.
Demi kebaikan? Di bagian mananya? Mama rela bertemu dengan client menghadiri rapat-rapat namun tidak pernah mau menghadiri acara seminar yang ku buat di kampus. Hal tersebut ku adukan pada papa. Namun jawaban papa, "kamu harus lebih mengerti dengan keadaan kami. Kamu harus lebih bisa bersyukur.."
Sampai pada akhirnya, aku mulai lelah.. aku mencoba mencari perhatian dari dunia luar. Aku mulai mencoba minuman keras, bahkan aku pernah mengkonsumsi narkoba. Semua barang itu membuatku seperti dalam pelukan keluarga tanpa mengemis dari mereka. Dan akhirnya aku terjerumus..
Lalu suatu ketika, mamaku mengetahui hal burukku. Mama menelfon papa untuk membicarakan hal ini.. papa pun mau menyempatkan diri untuk datang. Aku habis di semprot oleh mereka berdua. Mereka berkata bahwa mereka sangat kecewa dengan apa yang aku lakukan. Mereka mulai berbicara yang mana selama ini mereka berikan untukku. "Kamu tu sudah kami biayai kuliah di universitas mahal, kami fasilitasi mobil, uang jajan yang banyak. Dasar anak cuma menambah beban." Hatiku hancur mendengar perkataan mereka, jadi aku adalah seorang anak yang menjadi beban untuk mereka.
Beban? Jika aku adalah sebuah beban dari mereka kenapa mereka mau melahirkan ku. Aku tidak pernah meminta untuk dilahirkan.. jika aku bisa memilih.. aku ingin dilahirkan dari orang sederhana namun bersama, hangat memeluk dalam keluarga. Jikalaupun untuk menikmati pahit dunia ini. Aku lebih memilih dan memohon untuk tidak dilahirkan. Pada nyatanya aku tidak bisa. Pada akhirnya janji mereka hanya pemanis untuk perpisahan mereka.
0 komentar: