UNTUKMU, TERIMA KASIH
Kembali
ku teringat akanmu. Sore itu, hari jumat itu. Engkau dan aku memutuskan untuk
bertemu. Engkau ingin cerita banyak hal yang kamu alami. Aku menentukan jam 2
siang sebagai waktu untuk kita.
“Kamu
mau minum dimana?” tanyaku padamu seraya memilih tempat untukmu yang ingin
menceritakan semua pedihmu. “terserah” jawabmu singkat.
Dia
adalah wanita yang sudah aku kagumi semenjak aku dibangku SMP. Waktu itu entah
bagaimana bisa aku jatuh cinta sedang kami tak pernah berbicara empat mata.
Lama-lama kagum itu berubah menjadi cinta.
Setiap
aku melangkahkan pada hati yang lain, entah sosok seperti apa dia hingga mampu
menggagalkan anganku untuk melupakannya. Hingga pada akhirnya kita dipertemukan
( kembali ) di Universitas yang sama.
Mungkin
terlalu lama jika mencari tempat yang sempurna, seketika aku memilih warung
sederhana di depan kampus kami. Memang bukan tempat tongkrongan yang mewah
untuk wanita sepertimu yang indah.
Kupesankan
sebuah minuman seperti yang kamu minta untuk menyegarkan mulut yang mungkin
akan kau gunakan untuk berbicara panjang lebar. Yang aku tau kamu ingin
menceritakan masalah cintamu padaku, entah aku harus bagaimana.. Aku cemburu.
Menit-menit
pertama, kita hanya saling membicarakan masalah studi kita.. lidahku kelu,
merasa rindu setelah lama kita tidak bertemu. Jika saja bisa ingin kupeluk dan
ku kecup mesra keningmu saat bertemu, namun aku tau kita belum menjadi apa-apa.
Kita bahkan takk begitu banyak bertegur sapa.
Beberapa
menit kemudian. Kamu mengungkapkan semua yang ada di dada. Masalah cintamu,
bagaimana engkau diabaikan oleh kekasihmu, bagaimana engkau ditinggalkan oleh
kekasihmu. Kamu wanita yang begitu tegar. Tapi kamu belum pernah tau apa yang
aku lalui padamu, jauh lebih dari apa yang kamu alami dicintamu.
Menunggu,
tak semua orang mau menunggu, kebanyakan mereka akhirnya menyerah pada waktu. Pada
akhirnya mereka yang ditunggu menyesal karena memperlambat waktu yang karena
mereka yang trauma terhadap hal yang abu-abu, pada luka yang sudah semu. Lalu mereka
seenaknya saja berbicara. “perjuanganmu tidak tulus, gitu aja kok nyerah.” Mungkin
ini salahku yang tidak pernah jujur padamu, mencintaimu sejak dulu.
“Menangislah
jika itu melegakanmu walaupun rasanya itu tak lagi menjadi arti untukmu.”
Batinku sembari melihat tatapanmu yang berubah menjadi pilu. Kamu yang baru
saja patah hati yang merasa sangat tersakiti oleh lelaki yang kamu cintai. Aku
tau rasanya kehilangan, seorang adik perempuan yang dari kecil menjadi sumber
dai tawaku, acap kali menjadi teman bermainku. Dia lebih dulu ke surga,
meninggalkan kami sekeluarga. Bagaimana engkau sedih tersendu seperti itu
karena ditinggalkan kekasih yang belum tentu mencintaimu sepenuh hati itu?
Mengapa engkau lebih memilih merelakan air matamu jatuh karena lelaki yang
tidak memperdulikanmu itu?
Aku
menemukanmu yang tengah patah hati, dan mungkin juga aku masih patah hati. Ya,
karena kamu menjalin hubungan dengan kekasih yang kini kau tangisi itu. Dia
lebih memiliki keberanian untuk mengungkapkan padamu daripada aku. Aku tahu dia
menang segalanya dibandingkan aku, pantas sajalah kamu berhasil terpikat
olehnya.
Setelah
perbincangan tersebut. Kita makin dekat, dengan status masih teman. Kini
kulihat, lukamu mulai sembuh, hancurnya hatimu perlahan kembali utuh. Kita
saling bertukar rindu, aku rindu padamu.. sedangkan kamu bertukar rindu pada
dia yang kamu mau, dan pasti bukan aku.
Setelah
waktu berjalan, semua terlihat hambar. Aku berfikir kamu tidak pernah
mencintaiku. Aku hanya kamu butuhkan saat kamu rapuh. Ya, aku sadar. Kesamaan
memang tidak selalu bisa menyatukan. Kamu bukan membutuhkan teman senasib. Tapi kamu hanya butuh penyembuh agar kamu kembali utuh. Kamu hanya butuh pelarian
agar kamu kembali bisa mengejar impian. Untukmu, terima kasih.









0 komentar: