UNTUKMU, TERIMA KASIH

01.48.00 Unknown 0 Comments



Kembali ku teringat akanmu. Sore itu, hari jumat itu. Engkau dan aku memutuskan untuk bertemu. Engkau ingin cerita banyak hal yang kamu alami. Aku menentukan jam 2 siang sebagai waktu untuk kita.

“Kamu mau minum dimana?” tanyaku padamu seraya memilih tempat untukmu yang ingin menceritakan semua pedihmu. “terserah” jawabmu singkat.

Dia adalah wanita yang sudah aku kagumi semenjak aku dibangku SMP. Waktu itu entah bagaimana bisa aku jatuh cinta sedang kami tak pernah berbicara empat mata. Lama-lama kagum itu berubah menjadi cinta.

Setiap aku melangkahkan pada hati yang lain, entah sosok seperti apa dia hingga mampu menggagalkan anganku untuk melupakannya. Hingga pada akhirnya kita dipertemukan ( kembali ) di Universitas yang sama.

Mungkin terlalu lama jika mencari tempat yang sempurna, seketika aku memilih warung sederhana di depan kampus kami. Memang bukan tempat tongkrongan yang mewah untuk wanita sepertimu yang indah.

Kupesankan sebuah minuman seperti yang kamu minta untuk menyegarkan mulut yang mungkin akan kau gunakan untuk berbicara panjang lebar. Yang aku tau kamu ingin menceritakan masalah cintamu padaku, entah aku harus bagaimana.. Aku cemburu.

Menit-menit pertama, kita hanya saling membicarakan masalah studi kita.. lidahku kelu, merasa rindu setelah lama kita tidak bertemu. Jika saja bisa ingin kupeluk dan ku kecup mesra keningmu saat bertemu, namun aku tau kita belum menjadi apa-apa. Kita bahkan takk begitu banyak bertegur sapa.

Beberapa menit kemudian. Kamu mengungkapkan semua yang ada di dada. Masalah cintamu, bagaimana engkau diabaikan oleh kekasihmu, bagaimana engkau ditinggalkan oleh kekasihmu. Kamu wanita yang begitu tegar. Tapi kamu belum pernah tau apa yang aku lalui padamu, jauh lebih dari apa yang kamu alami dicintamu.

Menunggu, tak semua orang mau menunggu, kebanyakan mereka akhirnya menyerah pada waktu. Pada akhirnya mereka yang ditunggu menyesal karena memperlambat waktu yang karena mereka yang trauma terhadap hal yang abu-abu, pada luka yang sudah semu. Lalu mereka seenaknya saja berbicara. “perjuanganmu tidak tulus, gitu aja kok nyerah.” Mungkin ini salahku yang tidak pernah jujur padamu, mencintaimu sejak dulu.

“Menangislah jika itu melegakanmu walaupun rasanya itu tak lagi menjadi arti untukmu.” Batinku sembari melihat tatapanmu yang berubah menjadi pilu. Kamu yang baru saja patah hati yang merasa sangat tersakiti oleh lelaki yang kamu cintai. Aku tau rasanya kehilangan, seorang adik perempuan yang dari kecil menjadi sumber dai tawaku, acap kali menjadi teman bermainku. Dia lebih dulu ke surga, meninggalkan kami sekeluarga. Bagaimana engkau sedih tersendu seperti itu karena ditinggalkan kekasih yang belum tentu mencintaimu sepenuh hati itu? Mengapa engkau lebih memilih merelakan air matamu jatuh karena lelaki yang tidak memperdulikanmu itu?

Aku menemukanmu yang tengah patah hati, dan mungkin juga aku masih patah hati. Ya, karena kamu menjalin hubungan dengan kekasih yang kini kau tangisi itu. Dia lebih memiliki keberanian untuk mengungkapkan padamu daripada aku. Aku tahu dia menang segalanya dibandingkan aku, pantas sajalah kamu berhasil terpikat olehnya.

Setelah perbincangan tersebut. Kita makin dekat, dengan status masih teman. Kini kulihat, lukamu mulai sembuh, hancurnya hatimu perlahan kembali utuh. Kita saling bertukar rindu, aku rindu padamu.. sedangkan kamu bertukar rindu pada dia yang kamu mau, dan pasti bukan aku.

Setelah waktu berjalan, semua terlihat hambar. Aku berfikir kamu tidak pernah mencintaiku. Aku hanya kamu butuhkan saat kamu rapuh. Ya, aku sadar. Kesamaan memang tidak selalu bisa menyatukan. Kamu bukan membutuhkan teman senasib. Tapi kamu hanya butuh penyembuh agar kamu kembali utuh. Kamu hanya butuh pelarian agar kamu kembali bisa mengejar impian. Untukmu, terima kasih.

0 komentar:

KU NIKMATI

20.54.00 Unknown 0 Comments



Pada hari yang lalu. Saat matahari mulai meredup malu, aku menemui dia yang dulu menjadi wanita terindahku. Dia memintaku datang untuk menemuinya. Di taman kota dia berkata butuh teman bicara.

Tadinya aku sangat ingin menolak ajakan tersebut. Tetapi dari intonasi yang ia bicarakan di telepon, aku tidak mampu untuk menolak. Aku sadar bagaimana sakitnya mendapatkan penolakan saat kamu butuh teman (seseorang).

Aku sampai pada tempat sesuai janjiku. Pukul lima sore menjelang petang. Aku diberi suguhan roti dan soft drink. Kami saling memandang gedung-gedung indah nan ramai akan hadirnya kendaraan yang berjalan rapi beriringan.

Sepuluh menit pertama dia masih membicarakan tentang pribadinya, mulai dari sekolah yang dia masuki, teman baru yang membuatnya happy. Ia juga tak sungkan bertanya padaku dengan siapa aku menjalin hubungan? Lalu keadaan hening seakan ia masih tidak rela aku menyerah, lalu ia kutinggalkan.

Beberapa menit kemudian, perbincangan ini menjadi lebih serius. Katanya dia baru saja putus dengan kekasihnya. Sejenak mengenang kami, dulu kami berpisah dengan baik. Meski sebenarnya tidak benar-benar baik. Aku masih menyayangi dan mencintainya, sedangkan dia beda. Itulah masalah yang menyebabkan kisah kami pupus.

Kemudian dia menangis. Dia mencintai pria itu, aku tau dari sikap sedih yang berusaha dia tunjukkan padaku. Dia bertanya: beritahu aku bagaimana caramu melupakanku (dulu)?

Aku diam, tak tahu kalimat apa yang harus aku jelaskan. Kalimat apa yang harus ku katakan, bahwa aku belum benar-benar melupakanmu. Aku masih seperti dulu yang mencintaimu.

“Setiap perpisahan selalu memberikan pengalaman. Bagaimana cara menghargai setiap orang benar-benar kamu butuhkan bukan yang hanya kamu inginkan. Suatu hari akan kamu temukan orang yang akan membuatmu bahagia” sembari kata itu terlontar aku tersenyum berusaha sok kuat.

“Semua perkara menghargai. Ini soal bagaimana kamu sadar untuk tidak lagi menyia-nyiakan apa yang sudah ada. Aku tau kamu suka sekali akan sepatu. Setiap kamu bosan, kamu menyia-nyiakan sepatumu yang lama, lalu mencari yang baru hanya karena bosan. Padahal kamu sebenarnya tidak membutuhkan itu. Belajarlah mengerti setiap tindakan yang kamu lakukan akan mendapatkan balasan. Entah itu tindakan baik maupun buruk. Aku tidak pernah membencimu karena keputusan yang kamu tusukkan padaku. Untuk inilah kamu akan sadar untuk tidak lagi melakukan kesalahan yang sama. Perihal belajar dari kesalahan, pada akhirnya kamu akan bahagia entah dengan siapa. Semoga tidak lagi hatimu memutuskan karena bosan, ya.”

 Kini soft drink terasa hambar setelah percakapan ini, namun tetap ku nikmati.

0 komentar:

Untuk Wanita Yang Aku Perjuangkan

03.21.00 Unknown 0 Comments

Aku mencintaimu, kasihku. Meski  terkadang aku memanjakanmu dengan sikapku yang arogan atau terkesan kasar. Namun ketahuilah, aku khawatir terhadapmu. Aku masih seperti dulu, seorang laki-laki yang berusaha mencintaimu. Seseorang yang bernafas dalam harapan. Yang terkadang terluka sendiri oleh harapan yang ku besar-besarkan. Aku ingin kamu waras untuk memikirkanku dan meyakini bahwa aku mencintaimu dan tak ada lain selain kamu. Meski aku tau bahwa memang nyata, kamu bosan dengan sikapku yang ku tunjukkan padamu. Karena ada hal yang tidak bisa ditebak, terkadang perasaan sering diuji oleh hal yang tak pernah terfikirkan.

Namun sejak aku memilihmu, aku belajar untuk percaya. Meski diluar sana banyak sekali yang membuatku ragu akan dirimu. Dan akupun juga tau, kamupun demikian. Tak apa jika kini ragumu akan ku kian tak terbentahkan. Yang pasti, aku hanya mampu berjuang sekuat-kuatnya aku. Aku sudah memilihmu, dengan senang hati semua ini akan ku lalui.

Kini aku salah, aku salah mengucapkan padamu hakekat kata menyerah. Kini kamu lebih yakin akan ragumu. Kini kamu tidak yakin lagi akan ketulusanku. Ya aku tau..

Ketahuilah, setelah aku menemukanmu. Tak ingin ada hasrat lagi untuk mencintai selain dirimu. Beberapa kali harus kupikirkan hal itu, kamu belum paham dan belum terbiasa akan duniaku. Ketahuilah, kata perpisahan tak pernah ingin keluar dari hatiku, meski terkadang mulut selalu membeberkan hal yang abu-abu. Aku masih ingin mendekatkanmu kepadaku. Aku ingin jatuh cinta padamu pada setiap waktu yang kupunya. menjalani hidup saling berjuang bersama. Tidak akan ada nikmat dunia yang mampu menggantikan itu.

Aku masihlah lelaki yang selalu merindukanmu. Aku masihlah lelaki yang selalu menunggumu. Aku masihlah lelaki yang selalu ingin mengetahui kabarmu. Aku masihlah lelaki yang selalu mencintaimu. Aku masihlah lelaki yang mendambakanmu. Aku masihlah lelaki yang sebenarnya tak ingin pergi, darimu.

0 komentar: