KU NIKMATI
Pada hari yang lalu. Saat matahari mulai meredup
malu, aku menemui dia yang dulu menjadi wanita terindahku. Dia memintaku datang
untuk menemuinya. Di taman kota dia berkata butuh teman bicara.
Tadinya aku sangat ingin menolak ajakan tersebut. Tetapi
dari intonasi yang ia bicarakan di telepon, aku tidak mampu untuk menolak. Aku
sadar bagaimana sakitnya mendapatkan penolakan saat kamu butuh teman
(seseorang).
Aku sampai pada tempat sesuai janjiku. Pukul lima
sore menjelang petang. Aku diberi suguhan roti dan soft drink. Kami saling
memandang gedung-gedung indah nan ramai akan hadirnya kendaraan yang berjalan
rapi beriringan.
Sepuluh menit pertama dia masih membicarakan tentang
pribadinya, mulai dari sekolah yang dia masuki, teman baru yang membuatnya
happy. Ia juga tak sungkan bertanya padaku dengan siapa aku menjalin hubungan?
Lalu keadaan hening seakan ia masih tidak rela aku menyerah, lalu ia
kutinggalkan.
Beberapa menit kemudian, perbincangan ini menjadi
lebih serius. Katanya dia baru saja putus dengan kekasihnya. Sejenak mengenang
kami, dulu kami berpisah dengan baik. Meski sebenarnya tidak benar-benar baik.
Aku masih menyayangi dan mencintainya, sedangkan dia beda. Itulah masalah yang
menyebabkan kisah kami pupus.
Kemudian dia menangis. Dia mencintai pria itu, aku
tau dari sikap sedih yang berusaha dia tunjukkan padaku. Dia bertanya: beritahu
aku bagaimana caramu melupakanku (dulu)?
Aku diam, tak tahu kalimat apa yang harus aku
jelaskan. Kalimat apa yang harus ku katakan, bahwa aku belum benar-benar
melupakanmu. Aku masih seperti dulu yang mencintaimu.
“Setiap perpisahan selalu memberikan pengalaman.
Bagaimana cara menghargai setiap orang benar-benar kamu butuhkan bukan yang
hanya kamu inginkan. Suatu hari akan kamu temukan orang yang akan membuatmu
bahagia” sembari kata itu terlontar aku tersenyum berusaha sok kuat.
“Semua perkara menghargai. Ini soal bagaimana kamu
sadar untuk tidak lagi menyia-nyiakan apa yang sudah ada. Aku tau kamu suka
sekali akan sepatu. Setiap kamu bosan, kamu menyia-nyiakan sepatumu yang lama,
lalu mencari yang baru hanya karena bosan. Padahal kamu sebenarnya tidak
membutuhkan itu. Belajarlah mengerti setiap tindakan yang kamu lakukan akan
mendapatkan balasan. Entah itu tindakan baik maupun buruk. Aku tidak pernah membencimu
karena keputusan yang kamu tusukkan padaku. Untuk inilah kamu akan sadar untuk
tidak lagi melakukan kesalahan yang sama. Perihal belajar dari kesalahan, pada akhirnya kamu akan bahagia entah dengan siapa. Semoga tidak lagi hatimu memutuskan karena bosan, ya.”
Kini soft drink terasa hambar
setelah percakapan ini, namun tetap ku nikmati.









0 komentar: