KU NIKMATI

20.54.00 Unknown 0 Comments



Pada hari yang lalu. Saat matahari mulai meredup malu, aku menemui dia yang dulu menjadi wanita terindahku. Dia memintaku datang untuk menemuinya. Di taman kota dia berkata butuh teman bicara.

Tadinya aku sangat ingin menolak ajakan tersebut. Tetapi dari intonasi yang ia bicarakan di telepon, aku tidak mampu untuk menolak. Aku sadar bagaimana sakitnya mendapatkan penolakan saat kamu butuh teman (seseorang).

Aku sampai pada tempat sesuai janjiku. Pukul lima sore menjelang petang. Aku diberi suguhan roti dan soft drink. Kami saling memandang gedung-gedung indah nan ramai akan hadirnya kendaraan yang berjalan rapi beriringan.

Sepuluh menit pertama dia masih membicarakan tentang pribadinya, mulai dari sekolah yang dia masuki, teman baru yang membuatnya happy. Ia juga tak sungkan bertanya padaku dengan siapa aku menjalin hubungan? Lalu keadaan hening seakan ia masih tidak rela aku menyerah, lalu ia kutinggalkan.

Beberapa menit kemudian, perbincangan ini menjadi lebih serius. Katanya dia baru saja putus dengan kekasihnya. Sejenak mengenang kami, dulu kami berpisah dengan baik. Meski sebenarnya tidak benar-benar baik. Aku masih menyayangi dan mencintainya, sedangkan dia beda. Itulah masalah yang menyebabkan kisah kami pupus.

Kemudian dia menangis. Dia mencintai pria itu, aku tau dari sikap sedih yang berusaha dia tunjukkan padaku. Dia bertanya: beritahu aku bagaimana caramu melupakanku (dulu)?

Aku diam, tak tahu kalimat apa yang harus aku jelaskan. Kalimat apa yang harus ku katakan, bahwa aku belum benar-benar melupakanmu. Aku masih seperti dulu yang mencintaimu.

“Setiap perpisahan selalu memberikan pengalaman. Bagaimana cara menghargai setiap orang benar-benar kamu butuhkan bukan yang hanya kamu inginkan. Suatu hari akan kamu temukan orang yang akan membuatmu bahagia” sembari kata itu terlontar aku tersenyum berusaha sok kuat.

“Semua perkara menghargai. Ini soal bagaimana kamu sadar untuk tidak lagi menyia-nyiakan apa yang sudah ada. Aku tau kamu suka sekali akan sepatu. Setiap kamu bosan, kamu menyia-nyiakan sepatumu yang lama, lalu mencari yang baru hanya karena bosan. Padahal kamu sebenarnya tidak membutuhkan itu. Belajarlah mengerti setiap tindakan yang kamu lakukan akan mendapatkan balasan. Entah itu tindakan baik maupun buruk. Aku tidak pernah membencimu karena keputusan yang kamu tusukkan padaku. Untuk inilah kamu akan sadar untuk tidak lagi melakukan kesalahan yang sama. Perihal belajar dari kesalahan, pada akhirnya kamu akan bahagia entah dengan siapa. Semoga tidak lagi hatimu memutuskan karena bosan, ya.”

 Kini soft drink terasa hambar setelah percakapan ini, namun tetap ku nikmati.

0 komentar: